Fenomena Pencangkokan Nasab Dan Pembelokan Sejarah Bangsa

 

ilustrasi ai


OPINI- Fenomena pencangkokan nasab dan pembelokan Sejarah raja raja Nusantara tentu harus terus kita waspadai bersama. Sebab kedepan, referensi sejarah sudah tidak lagi membuka manuskrip / kitab kitab kuna sebagai sumber primer pada suatu obyek penelitian sejarah, akan tetapi  lebih banyak mengambil dari sumber di internet. 

Oleh sebab itu akan semakin sulit dibedakan mana yang benar dan mana yang bohong /hoaks. Apalagi kecerdasan digital (AI) kian hari kian maju menguasai alam sadar manusia. Pembelokan sejarah dalam dunia digital di masa depan akan menjadi sebuah kebenaran sejarah, jika sejak sekarang tidak kita tangkal dengan narasi Sejarah yang benar serta menjadikan jejak digital yang bisa di verifikasi keabsahanya. 

Lantas perlukah sebuah wilayah yang memiliki pusat kebudayaan di jadikan daerah khusus untuk memaksimalkan penyelamatan dan pelestarian warisan budaya bangsa ? Melupakan ingatan sejarah bukan hal yang bisa di anggap enteng.

Sebab hilangnya ingatan seseorang pada sejarah sebagaimana halnya orang yang lupa ingatan. Perilakunya akan menjadi tidak terkendali, hilang kesadaran dan ngawur dalam menapaki proses kehidupan. Lupa Sejarah juga menyebabkan penyakit mental kronis pada Sebagian besar anak bangsa ini sehingga merusak karakter kebangsaan dan tak mampu memelihara character building. 

Implikasinya mereka akan mudah di kendalikan agen agen modernitas materialisme yang menjadi kepanjangan tangan neo kolonialisme, neo imperalis dan menjadi budak budak konsumtif kepentingan budaya asing. 

Juri lina, penulis swedia mengungkapkan tiga cara kaum penjajah barat yang umumnya berideologi materialis – kapitalis dan dari kelompok freemanson – iluminati hitam dalam menjajah sebuah negara. 

1.       Melakukan pengaburan Sejarah dan membuat anak anak bangsa sebanyak mungkin lupa akan Sejarah bangsanya sendiri.

2.       Menghancurkan bukti bukti Sejarah sehingga tidak bisa lagi dengan mudah membuktikan kebenaran Sejarah bangsa.

3.       Berupaya sebanyak mungkin memutuskan hubungan putra bangsa dengan leluhur leluhurnya. 

Sun Tzu dalam bukunya The Art of War menulis, bahwa untuk menghancurkan perdaban bangsa tidak perlu mengirimkan pasukan perang, tetapi cukup dengan cara menghapuskan pengetahuan mereka atas kejayaan para leluhur leluhurnya, maka mereka akan hancur sendiri.

:red