Pancasila Bukan Hiasan Dinding, Tokoh Muda NU Solo Tegaskan Pentingnya Implementasi Real

 

Tokoh Muda NU Solo, Sudrajat Kentas Pribadi/ Foro: SP


TOKOH - Tokoh muda NU Solo Sudrajat Kentas Pribadi mengatakan, pentingnya bangsa ini kembali memperkuat ideologi Pancasila.

Di katakan kembali, karena kita merasakan kondisi bangsa ini sekarang sudah sangat jauh dari ideologi Pancasila. Lima sila Pancasila hanya menjadi slogan hiasan dinding ruang kantor semata. Lambang burung garuda bukan lagi symbol kesakralan ideologi negara, tetapi hanya perupa hiasan semata.

Jika symbol dan nilai nilai yang tertanam dalam Garuda Pancasila tidak lagi di artikan dalam bernegara apalagi diimplementasikan, maka kondisi bangsa ini sudah masuk dalam fase darurat ideologi.

Padahal kekuatan sebuah ideologi negara itu terletak bukan pada symbol dan pemahamanya, tetapi implementasi langsung nilai nilai yang tertanam untuk perilaku kehidupan sehari hari.

Terjadinya krisis multidimensi, lemahnya rasa gotong royong, berkurangnya rasa cinta pada bangsa dan negara, serta merebaknya ideologi liberal, fundamental kanan, radikalisme dan intoleran, semua itu tidak lepas dari lemahnya kita menjaga ideologi negara.

Para pemangku kepentingan, pejabat negara dan birokrasi lebih mementingkan kepentingan kelompok dan dirinya sendiri. Masyarakat juga semakin jauh dari rasa gotong royong dan kebersamaan.

Padahal jika di pahami bahwa gotong royong adalah ciri asli bangsa  Nusantara. Toleransi adalah watak hidup bangsa Nusantara. Sedangkan keragaman budaya adalah cermin asli bangsa Nusantara. 

Seluruh karakter bangsa Nusantara yang dulu menjadi jati diri asli bangsa timur sekarang terasa sudah sangat jauh dari watak aslinya.  

Perubahan itu tercermin dari rendahnya nilai toleransi, merebaknya doktrin ideologi transnasional yang di bungkus atas nama kebebasan hak asasi, serta kesucian agama yang kerap memusyrikan keragaman budaya local.

Lebih di perparah lagi lemahnya kedudukan hukum bagi kaum minoritas atas mayoritas. Tak jarang intoleran dan kekerasan di jadikan alat oleh sekelompok golongan dan elit golongan untuk memaksakan kehendak, baik untuk alat politik maupun kepentingan kekuasaan lainya.

Sebesar apapun kesalahan dan penisataan yang di lakukan oleh sekelompok golongan mayoritas, tetap akan kecil di mata hukum dan elite golongan. Sedangkan sekecil apapun kesalahan kaum minoritas akan menjadi besar dan menuai sanksi hukum berat jika menyinggung kaum mayoritas.

Ketidaksamaan kedudukan di mata hukum tersebut membuat kita kerap merasa miris. Peran negara seakan hanya hadir bagi kelompok tertentu, hukum bukan lagi menjadi panglima, tetapi golongan dan politik adalah panglimanya.

Kondisi dan situasi sekarang ini tak bisa di lepaskan dari lemahnya negara memegang teguh ideologi Pancasila. 

Pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk membangun generasi muda sebagai agen perubahan, sekaligus jalan bagi cita cita dan masa depan bangsa, sekarang juga banyak yang terpapar ideologi transnasional.

Padahal para pendiri bangsa sudah meletakan pondasi dasar berbangsa dan bernegara adalah Pancasila, akan tetapi seluruh pondasi dasar tersebut sedikit demi sedikit sekarang mulai runtuh. 

Jika kondisi ini terus di biarkan tanpa ada rasa kesadaran membangun dan menguatkan ideologi Pancasila, maka bangsa ini kedepan akan menuju perpecahan.

Slogan Pancasila Jaya hanya ucapan manis di mulut jika melihat kondisi seperti sekarang ini. Karena jika Pancasila benar benar jaya, maka hari ini kita tidak akan merasa jauh dari toleransi. 

Semua warga sama di hadapan hukum. Penguasa dan pejabat akan mementingkan kepentingan rakyat. Sumber daya alam lestari dan selaras. Generasi muda tidak kehilangan karakter dan jati diri. Rakyat Makmur, Adil dan Sejahtera.

Oleh karena itu slogan Pancasila Jaya seharusnya di ganti dengan slogan Pancasila Harga Mati.

Karena ideologi Pancasila di letakan oleh para pendiri bangsa dan para ulama untuk mewadahi di dalam menjaga toleransi dan keragaman budaya.Pancasila adalah pandangan hidup, falsafah yang harus di implementasikan dalam perilaku sehari hari dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Ribuan pulau, perbedaan agama, suku, adat dan bahasa yang ada di Indonesia tidak mungkin dapat di satukan jika tidak dengan Pancasila. Keragaman sosial budaya adalah kekuatan yang senantiasa harus kita jaga bersama.

Ancaman pada ideologi Pancasila sekarang kita rasakan bukan sekedar omong kosong belaka. Renggangnya rasa gotong royong dan  kebersamaan menjadikan masyarakat kita terkotak kotak, sehingga rentan di pecah belah.

Kesamaan hak individu dan kelompok didalam Pancasila di atur atas dasar keadilan yang beradab. Adil dengan mengedepankan etika, moral dan budi pekerti.

Bukan kebebesan tanpa dasar etika dan adab. Pancasila mengedepankan nilai keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa diskriminasi sosial, suku dan agama.

Kesepakatan para pendiri bangsa yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara adalah suatu kebijaksanaan yang sangat luar biasa. Mereka membangun pemikiran bersama atas dasar kebangsaan bukan individu maupun kelompok.

Berbagai ancaman ideologi transnasional yang ada saat ini tentu harus di sikapi dengan serius. Sebab dengan semakin derasnya keterbukaan informasi mengalir bebas di internet, akan semakin banyak pula tantangan ideologi asing masuk secara bebas.

Oleh sebab itu negara harus hadir memperkuat ideologi Pancasila. Negara harus memiliki pondasi kuat dalam menjaga dan menegakan Pancasila.

Ideologi Pancasila tidak membatasi masyarakat beragama sesuai dengan keyakinanya. Pancasila tidak membatasi hak asasi individu masing masing,. Pancasila tidak membatasi pendapat dan gagasan. Pancasila juga harus menjaga kebersamaan, toleransi dan gotong royong.

Untuk itulah didalam menjaga semua perbedaan yang ada, Bhinneka Tunggal Ika hadir sebagai sebuah kekuatan pelindung Ideologi Pancasila.

: Ref