Foto: Ilustrasi AI
Jejak - Perjalanan Nusantara dari masa ke masa tak akan pernah bisa
di lepaskan dari ramalan para pujangga tanah jawa. Bahkan di beberapa serat
serat kuna tersebut, para pujangga meramal tidak hanya berkisah tentang kondisi
jaman yang ada, tetapi juga akhir masa keberadaan tanah jawa yang konon di
ramalkan kehancuranya akibat bencana alam yang sangat hebat.
Saat peresmian patung Ronggowarsito di museum Radya Pustaka,
Bung Karno dalam orasinya mengatakan, meski pujangga Ronggowarsito sudah
meramalkan akan datang kemerdekaan untuk Bangsa Indonesia, akan tetapi jika kita
sebagai bangsa hanya diam saja tanpa usaha dan ihktiar mustahil ramalan tersebut
dapat terwujud.
Berbagai kondisi dan keadaan yang ada sampai
hari ini jika kita cermati secara mendalam, seakan sama persis dengan ramalan pujangga Ronggowarsito.
Tak terkecuali ramalan dalam serat kalatidha yang menceritakan tentang kondisi jaman edan ' yen nora melu edan ora keduman'. Semua seakan sama persis seperti yang terjadi pada bangsa ini.
Peralihan dari
jaman edan ke jaman kalasuba atau jaman kemakmuran juga sudah di ramalkan oleh
Ronggowarsito, akan tetapi kapan datangnya jaman kemakmuran tersebut semua tergantung pada kehendak Tuhan dan ihtiar manusia untuk mewujudkanya.
Sebagai masyarakat awam kita tentu tidak mengetahui kapan jaman kemakmuran tersebut datang, akan tetapi dari ramalan yang di tulis, Ronggowarsito sudah menyampakan tanda tandanya.
Seperti tertulis dalam Serat Sabda Jati. Ronggowarsito
tidak hanya meramal tentang waktu dan hari kematianya, tetapi juga kondisi
bangsa ini di masa depan.
Petikan syair sang pujangga tersebut antara lain berbunyi :
‘ Ki Pujangga
nyambiwara wèh pitutur | saka mangunahing Widhi | ambuka warananipun |
aling-aling kang ngalingi | angalingkap têmah katon |
Sang Pujangga menyampaikan warta dan nasehat | atas pertolongan
gaib dari Tuhan (Widhi) | untuk membuka tirai penutup | penghalang yang selama
ini menutupi | tersingkap sehingga semuanya menjadi jelas terlihat.
‘Para janma sajrone jaman pakewuh | kasudranira andadi |
dahurune saya ndlarung | kèh tyas mirong murang margi | kasêktèn wus nora katon
||’
Umat manusia di dalam jaman yang kesusahan (Jaman Pakewuh) |
kehinaan dan perbuatan nista semakin menjadi-jadi | kekacauan dan huru-hara
makin meluas | banyak hati yang menyimpang dan melanggar aturan kebenaran |
kesaktian dan keluhuran budi sudah tidak tampak lagi.
‘Katuwone winawas dahad matrênyuh | kênyaming sasmita
yêkti | sanityasa tyas malat kung | kongas wêlase kêpati | sulaking janma
prihatos ||’
Sungguh jika diamati terasa sangat menyedihkan | merasakan
pertanda zamannya secara nyata | senantiasa hati merasa perih dan berduka |
meresap rasa iba dan kasihan yang amat sangat | melihat wajah dan penderitaan
orang-orang yang prihatin.
‘Waluyane benjang yèn wus ana Wiku | mêmuji ngèsthi
sawiji (1887) | sabuk lêbu lir majênun | galibêdan tudang-tuding | anacahkên
sakèhing wong ||’
Kesembuhan kelak terjadi jika sudah ada sosok Orang Suci
(Wiku) | yang senantiasa berdoa dan menyatu memuja Tuhan yang Maha Esa I berpenampilan
bersahaja berpakaian sabuk debu bagaikan orang gila (tidak memikirkan duniawi)
| lalu lalang ke sana kemari sambil menunjuk-nunjuk | menghitung mendaftar
seluruh rakyat I.
‘Iku lagi sirêp jaman Kalabêndu | Kalasuba kang gumanti |
wong cilik bisa gumuyu | nora kurang sandhang-bukti | sêdyane kabèh kalakon ||
Di situlah baru mereda Jaman Kalabendu (jaman murka dan
penderitaan) | digantikan oleh Jaman Kalasuba (jaman kemakmuran dan
kebahagiaan) | rakyat kecil bisa tersenyum dan tertawa | tidak kekurangan
sandang, pangan, dan kebutuhan hidup | semua cita-cita dan harapan dapat
terwujud.
Syair dalam pupuh serat sabda jati di atas menceritakan,
saat pujangga Ronggowarsito berkenan atas kuasa Tuhan di berikan penglihatan
secara gamblang terhadap kondisi bangsa ini, sejak dari jaman kesusahan ( jaman
edan) sampai dengan peralihan jaman kalasuba atau jaman kemakmuran.
Tanda tanda tersebut di gambarkan secara jelas oleh sang
pujangga dengan hadirnya seseorang berhati suci yang senantiasa berdoa memuja
Tuhan Yang Maha Esa dengan daya penampilan sederhana, bersahaja, tak memikirkan
duniawi, dan kesenanganya hanya kesana kemari sambil menunjuk nunjuk menghitung
seluruh rakyat.
Jika membaca makna dalam serat tersebut saat ini kita
melihat belum ada seorang pemimpin yang berwatak atau kriteria seperti yang di
ramalkan oleh pujangga Ronggowarsito. Akan tetapi sosok tersebut di yakini oleh
masyarakat Jawa yang masih memegang teguh ajaran leluhur, kelak akan datang entah
hari ini, besuk, ataupun lusa.
Semua tergantung dari niat, usaha dan doa seluruh rakyat
Indonesia jika ingin kemakmuran dan kebahagiaan itu datang.
Sosok tersebut sebenarnya penanda masa datangnya jaman
kalasuba atau seseorang yang di tunjuk menjadi pemimpin di jaman kalasuba, semua
akan terungkap saat bangsa ini sudah melewatinya.
Oleh : Djko
